Pernah ada seseorang yang sebenarnya tahu bahwa apa yang dia lakukan itu kurang baik. Sudah beberapa kali diingatkan oleh orang terdekatnya, tapi setiap nasihat justru dianggap sebagai sindiran, kritik, atau bahkan bentuk ketidaksukaan. “Aku tahu apa yang aku lakukan,” atau “urus saja dirimu sendiri” katanya. Lama-lama orang-orang di sekitarnya memilih diam, bukan karena membenarkan, tapi karena merasa percuma berbicara kepada hati yang sedang tertutup.
Sedangkan dalam sebuah hadist
dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, bahwa
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
وَإِنَّ أَبْغَضَ
الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ: اتَّقِ اللهَ
فَيَقُولُ: عَلَيْكَ نَفْسَكَ
Sesungguhnya ucapan yang paling dibenci Allah adalah
di saat seseorang berkata (menasihati) orang lain: “Bartaqwalah kamu kepada
Allah”, dia menjawab: “Urus dirimu sendiri!” (HR. An Nasa’i dalam As Sunan Al
Kubra no. 10619. Shahih. Lihat Ash Shahihah no. 2939)
Padahal, kebenaran tidak
selalu terasa nyaman ketika pertama kali mendengarnya. Kadang yang membuat
seseorang sulit menerima nasihat bukan karena dia tidak tahu mana yang benar,
tetapi karena egonya belum siap mengakui kesalahan. Kata “Urus dirimu sendiri”, kadang ada tambahan: “Kayak
kamu udah benar aja!” atau juga: “Apa hak kamu menasihati saya?!” dan kalimat
lain semisalnya. Sebenarnya inilah jebakan syaitan dalam hati seseorang yang
tidak bisa menerima ketika dinasehati tentang kebenaran dan kesabaran. Bisa
jadi secara sengaja atau tidak sengaja dia telah mengatakan ucapan yang paling
dibenci Allah SWT.
Penolakan
terhadap nasihat kebaikan dengan respon yang kasar, merupakan petunjuk adanya kibr (kesombongan) dalam dirinya. Sebab, sombong itu
adalah:
بَطَرُ الْحَقِّ
وَغَمْطُ النَّاس
Menolak
kebenaran dan merendahkan manusia. (HR. Muslim no.91)
Budaya
saling menasihati telah diajarkan Islam dalam QS. Al-‘Ashr: 1 – 3
وَالْعَصْرِۙ ١
Demi masa,
اِنَّ
الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ٢
sesungguhnya manusia benar-benar
berada dalam kerugian,
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ
kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling
menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.
Lalu bagaimana
solusinya? Jangan lelah mendoakannya, jangan membalas keras dengan keras, dan
jangan merasa diri kita lebih baik. Sampaikan nasihat dengan cara yang lembut,
pilih waktu yang tepat, dan tunjukkan kebaikan melalui sikap, bukan hanya
melalui kata-kata.
Dan yang paling
penting, kita harus memahami bahwa tugas kita adalah menyampaikan kebaikan,
bukan memaksa hati orang lain untuk berubah. Hidayah adalah milik Allah. Bisa
jadi nasihat yang hari ini ditolak, justru suatu hari menjadi kalimat yang
terus teringat ketika hatinya mulai terbuka. Jadi, tetaplah mengajak kepada
kebaikan dengan sabar, sambil terus memperbaiki diri sendiri. Karena terkadang,
perubahan seseorang bukan dimulai dari nasihat yang panjang, tetapi dari satu kalimat
sederhana yang disampaikan dengan kasih sayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar