Jumat, 10 Mei 2024

TIPS MENINGKATKAN KESABARAN

 


Seringkali dengan mudahnya kita kehilangan kontrol diri karena suatu hal. Akibatnya, alih-alih bisa sabar, justru emosi yang akan melupa. Karena itu, sudah saatnya kita mempertebal tingkat kesabaran kita, sehingga tidak mudah terpancing emosi kita. beberapa kiat untuk meningatkan kesabaran kita diantaranya adalah :

1. Mengikhlaskan niat kepada Allah Ta'ala, bahwa ia semata-mata berbuat hanya untuk-Nya. Dengan adanya niatan seperti itu, akan sangat menunjang munculnya kesabaran kepada Allah Ta'ala.

2. Memperbanyak tiwalah (baca; membaca) Al-Qur'an, baik pada pagi, siang, sore ataupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai perenungan dan pentadaburan makna-makna yang dikandungnya. Karena Al-Qur'an merupakan obat bagi hati insan. Masuk dalam kategori ini juga dizkir kepada Allah.

3.  Memperbanyak puasa sunnah. Karena puasa merupakan hal yang dapat mengurangi hawa nafsu terutama yang bersifat syahwati dengan lawan jenisnya. Puasa juga merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih kesabaran.

4.  Mujahadatun nafs, yaitu sebuah usaha yang dilakukan seseorang untuk berusaha secara giat dan maksimal guna mengalahkan keinginan-keinginan jiwa yang cenderung suka pada hal-hal negatif, seperti malas, marah, kikir dsb.

5.  Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di dunia. Karena hal ini akan membacu manusia untuk beramal secara sempurna. Sedangkan ketidaksabaran (isti'jal), memiliki prosentase yang cukup besar untuk menjadikan amalan seseorang tidak optimal. Apalagi jika merenungkan bahwa sesungguhnya Allah akan melihat "amalan" seseorang yang dilakukannya, dan bukan melihat pada hasilnya. 

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

 

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

 

6. Perlu mengadakan latihan-latihan untuk sabar secara pribadi. Seperti ketika sedang sendiri dalam rumah, hendaklah dilatih untuk beramal ibadah daripada menonton televisi misalnya. Kemudian melatih diri untuk menyisihkan sebagain rezeki untuk infaq fi sabilillah, dsb.

7.  Membaca kisah-kisah kesabaran para sahabat, tabi'in maupun tokoh-tokoh Islam lainnya, karena hal ini akan menanamkan keteladanan yang patut dicontoh dalam kehidupan nyata di dunia.

 

Buku “Indahnya Kehidupan Seorang Muslim” Hal 54 – 56, Abu Fatih, Lc.

 

Minggu, 05 Mei 2024

Cerita Islami - Menyantuni Tetangga dan Anak Yatim


Abdullah bin Mubarak, termasuk salah seorang ulama salaf (masa-masa setelah wafatnya Rasulullah SAW dan berakhirnya Khulafaur Rasyidin, yang masih mengikuti jalan dan teladan Rasulullah SAW dan para sahabat beliau), ketika selesai menjalankan ibadah haji, ia sempat tertidur di baitullah tidak jauh dari ka’bah. tiba-tiba ia melihat suatu pemandangan dimana dua malaikat turun dari langit menuju area thawaf. salah seorang dari mereka berkata, “berapa orang yang berhaji tahun ini?”


malaikat satunya berkata, “enamratus ribu orang!!”

“berapakah yang diterima hajinya?”

“tidak seorangpun!!”

“tidak seorangpun??” tanya malaikat yang pertama, seakan tidak percaya.

malaikat kedua berkata lagi, “tetapi seorang tukang sol sepatu/sandal di damaskus bernama muwafiq yang tidak jadi berhaji, justru diterima hajinya oleh allah. dan berkah dari diterimanya hajinya muwafiq ini, diterimalah semua ibadah haji pada tahun ini!!”

abdullah bin mubarak segera terbangun, dan terheran-heran dengan mimpi yang dialaminya. benarkah seperti itu keadaannya? tidak ada pilihan lain, kecuali membuktikan adanya seorang tukang sol sepatu/sepatu yang bernama muwafiq tersebut. dari makkatul mukarramah, ibnu mubarak tidak langsung pulang, tetapi memacu tunggangannya menuju damaskus di syam (syiria).

setibanya di sana, ia mencari tahu tentang muwafiq tersebut, dan ternyata tidak terlalu kesulitan. profesinya sebagai tukang sol sepatu/sandal selama puluhan tahun membuatnya ia banyak dikenal oleh orang-orang di damaskus. setelah ditunjukkan rumahnya dan bertemu dengan muwafiq, ibnul mubarak tidak melihat sesuatu yang istimewa pada dirinya, hanya seorang lelaki sederhana, bahkan cenderung miskin, tetapi tampak jelas ketulusan dan keikhlasan pada sinar wajahnya.

setelah dipersilahkan duduk dan memperkenal diri, ibnul mubarak berkata, “kebaikan apakah yang engkau kerjakan sehingga engkau memperoleh derajad yang tinggi di sisi allah?”

muwafiq tampak tidak mengerti dengan pertanyaannya tersebut, dan berkata, “ada apakah gerangan? tiba-tiba engkau menemuiku dan bertanya seperti itu?”

kemudian abdullah bin mubarak menceritakan kalau ia baru saja selesai berhaji dan mengalami mimpi seperti yang dialaminya tersebut, yang kemudian membawa langkahnya untuk menemuinya. mata muwafiq tampak berkaca-kaca penuh haru, dan ia hanya bisa mengucap hamdalah sebagai ungkapan rasa syukurnya. tanpa disadarinya, menitik air matanya karena begitu bahagianya.

setelah muwafiq mulai bisa menguasai emosinya kembali, ia bercerita kalau sejak lama ia sangat ingin berhaji. tetapi karena keadaannya miskin, ia harus menabung dan menyisihkan penghasilannya selama bertahun-tahun. tahun ini ia telah mengumpulkan tigaratus dirham, cukup untuk perjalanan hajinya dan bekal kehidupan keluarga yang ditinggalkannya.

suatu ketika, istrinya yang sedang hamil, mencium bau masakan dari rumah tetangganya. layaknya seorang hamil muda yang ngidam, ia sangat ingin merasakan masakan tetangganya tersebut. muwafiq telah membujuknya untuk membuatkan atau membelikan masakan yang sama, tetapi istrinya tetap menolak, kecuali masakan tetangganya itu. dengan berat hati muwafiq mendatangi rumah tetangganya tersebut, yang ternyata adalah seorang janda dan anak-anak yatimnya. begitu dibukakan pintu, muwafiq berkata, “wahai ibu, istriku sedang hamil, dan ia membaui masakan engkau dan ingin merasakannya. bolehkan aku meminta sedikit saja untuk memenuhi keinginannya?”

tampak kesedihan di mata wanita itu, bahkan hampir menangis, ia berkata, “wahai muwafiq, makanan itu halal bagiku tetapi haram bagi engkau!!”

“mengapa demikian?” tanya muwafiq terheran-heran.

kemudian wanita janda itu menceritakan kalau dia dan anak-anak yatimnya sedang kelaparan. telah tiga hari lamanya tidak ada makanan apapun yang masuk ke perut mereka kecuali air. pagi hari itu ia keluar, dan ketika berjalan berkeliling ia melihat seekor keledai yang telah mati. ia memotong sebagian daging bangkai keledai tersebut dan membawanya pulang, kemudian memasaknya. bau masakan itulah yang sempat masuk ke rumah muwafiq, dan membuat istrinya sangat menginginkannya.

mendengar ceritanya itu, muwafiq segera pulang dan mengambil simpanan tigaratus dirham yang telah dikumpulkannya selama bertahun-tahun, dan memberikannya kepada janda tersebut. ia berkata, “nafkahilah anak-anak yatimmu itu dengan uang ini!!”

setelah itu ia beranjak pulang, dan ia berkata di dalam hati, “sesungguhnya haji berada di pintu rumahku!!”

abdullah bin mubarak terkagum-kagum dengan cerita muwafiq tersebut dan berkata, “shadaqahmu kepada tetangga dan anak yatimnya itulah yang membuat hajimu diterima, dan memberkahi haji kami semua tahun ini, sehingga diterima juga di sisi allah!!”

Selasa, 16 April 2024

Kisah Hikmah Islami "Ketika Malaikat Membantu Manusia"

 


Suatu ketika Ali bin Abi Thalib baru saja pulang dan berkata kepada istrinya, Fathimah az Zahra, “Wahai wanita yang mulia, apakah kamu mempunyai makanan untuk suamimu ini??”

Fathimah berkata, “Demi Allah aku tidak mempunyai sesuatu (makanan apapun), tetapi ini ada enam dirham (uang perak), hasil kerjaku dan Salman (al Farisi) memintal bulu-bulu domba milik orang Yahudi. Rencananya akan kubelikan makanan untuk Hasan dan Husain!!”

Begitulah memang keadaan Fathimah az Zahra, putri kesayangan Rasulullah SAW itu dan keluarganya. Sebenarnya kalau saja mereka mau, mudah saja bagi mereka untuk mengumpulkan harta dan hidup bergelimang kemewahan dunia. Tetapi seperti halnya Rasulullah SAW, mereka memilih untuk zuhud dalam kehidupan dunia ini. Tidak jarang Fathimah dan Ali bekerja menimba air untuk menyiram kebun kurma milik orang-orang Yahudi, memintal bulu-bulu domba, memilah-milah kurma dan lain-lainnya. Inilah gambaran kehidupan seorang wanita, yang Nabi SAW pernah bersabda, “Penghulu kaum wanita di surga adalah Fathimah az Zahra!!”

Mendengar jawaban istrinya itu, Ali berkata, “Biar aku saja yang membeli makanan itu!!”

Maka Fathimah menyerahkan uang enam dirham itu kepada suaminya, yang segera saja pergi meninggalkan rumah. Tetapi dalam perjalanan untuk membeli makanan itu, Ali bertemu seorang lelaki yang berkata, “Siapakah orang yang mau meminjami Tuhan Yang Maha Pengasih, Dzat yang selalu menepati janji??”

Tanpa berfikir panjang, Ali menyerahkan uang enam dirham hasil kerja istrinya itu kepada lelaki itu. Ia bukannya tidak ingat kalau keluarganya sedang kelaparan, terutama kedua anaknya yang masih kecil, tetapi demikianlah memang didikan dan contoh yang diberikan Rasulullah SAW. Bagi umumnya orang mungkin tidak mengapa jika ‘mengurangi kadar’ atau kualitas dari yang dicontohkan Nabi SAW, sebatas kemampuan masing-masing, tetapi tidak bagi Ali. Sejak balita ia diasuh Nabi SAW, bahkan kemudian dinikahkan dengan putri kesayangan beliau, kalau ia ‘bergeser’ terlalu jauh dari didikan Nabi SAW, tentulah telah menjadi kesalahan besar baginya.

Setelah itu Ali segera kembali ke rumah, dan Fathimah menyambutnya dengan menangis ketika melihatnya tidak membawa apa-apa. Ali berkata, “Wahai wanita mulia, mengapa engkau menangis??”

Fathimah berkata, “Wahai Ali, engkau pulang tanpa membawa sesuatu??”

Ali berkata, “Wahai wanita mulia, aku meminjamkan uang itu kepada Allah!!”

Tanpa penjelasan lebih banyak, maklumlah Fathimah apa yang terjadi, maka ia berkata, “Sungguh, aku mendukung sikapmu itu!!”

Tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya, Ali segera keluar rumah dengan maksud menemui Nabi SAW. Tetapi di tengah perjalanan ia bertemu seorang badui yang sedang menuntun seekor unta. Si Badui yang tidak dikenalnya itu berkata, “Wahai Abul Hasan, belilah unta ini!!”

Ali berkata, “Aku tidak mempunyai uang!!”

Si Badui itu berkata lagi, “Belilah dengan tempo (pembayaran di belakang)!!”

Ali berkata, ‘Berapa??”

“Seratus dirham!!” Kata si Badui itu.

“Baiklah,“ Kata Ali, “Kubeli seharga seratus dirham dengan tempo!!”

Si Badui menyerahkan unta tersebut kepadanya dan berlalu pergi. Ali tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan unta itu, tetapi ia menuntunnya begitu saja. Tetapi belum jauh berjalan tiba-tiba muncul seorang badui lain menghampirinya, dan berkata, “Wahai Abul Hasan, apakah engkau ingin menjual unta ini?”

Tanpa berfikir panjang, Ali berkata, “Ya!!”

“Berapa??”

“Tigaratus dirham!!” Kata Ali.

“Baiklah, kubeli seharga tigaratus dirham!!”

Kemudian si Badui yang juga tidak dikenalinya itu membayar kontan tigaratus dirham, dan membawa pergi unta tersebut. Ali sangat gembira, segera ia membeli beberapa bahan makanan untuk keluarganya kemudian pulang. Kali ini Fathimah menyambutnya dengan tersenyun, dan berkata, “Wahai Abul Hasan, apa yang terjadi kali ini??”

Dengan gembira Ali berkata, “Wahai putri Rasulullah, kubeli unta seharga seratus dirham dengan tempo, dan kujual lagi dengan kontan seharga tigaratus dirham!!”

Fathimah berkata, “Aku mendukung sikapmu itu!!”

Beberapa lama kemudian, Ali pergi menemui Nabi SAW sesuai dengan niat sebelumnya. Begitu ia masuk masjid, Nabi SAW tersenyum kepadanya dan bersabda, “Wahai Abul Hasan, engkau yang bercerita, atau aku saja yang bercerita??”

Tanpa tahu maksudnya, Ali berkata, “Wahai Rasulullah, engkau saja yang bercerita!!”

Nabi SAW bersabda, “Berbahagialah engkau, Abul Hasan, engkau telah meminjamkan enam dirham kepada Allah, maka Allah memberimu tigaratus dirham. Setiap dirhamnya dibalas dengan limapuluh kali lipatnya. Orang Badui yang pertama menjumpaimu adalah Malaikat Jibril, sedang yang kedua adalah Malaikat Mikail!!”

Malaikat-malaikat yang membantu manusia, tentunya atas seijin dan perintah Allah SWT, mungkin tidak hanya terjadi pada Rasulullah SAW dan para sahabat beliau seperti kisah di atas, atau juga pada Perang Badar, Hunain dan beberapa peristiwa lainnya. Bisa saja itu terjadi di antara kehidupan kita sehari-hari, bisa dalam bentuk seseorang yang tidak dikenali, yang memberikan bantuan seperti peristiwa yang dialami oleh Ali bin Abi Thalib. Atau mungkin seseorang yang dikenali memberikan bantuan, tetapi sebenarnya yang bersangkutan tidak melakukannya. Hanya saja Allah memerintahkan malaikat untuk menyerupakan diri dengan orang tersebut untuk memuliakannya, seperti yang terjadi pada seorang tabi’in bernama Abdullah bin Mubarak. Wallahu A’lam.

Kamis, 14 Maret 2024

Cerita Islami - Kesibukan Malaikat Pada Bulan Ramadhan


Surga selalu dihias dan diberi harum-haruman dari tahun ke tahun karena masuknya bulan Ramadhan. Pada malam pertama Ramadhan itu, muncullah angin dari bawah Arsy yang disebut al Mutsirah. Karena hembusan al Mutsirah ini, daun-daunan dari pepohonan di surga bergoyang dan daun-daun pintunya bergerak, sehingga menimbulkan suatu rangkaian suara yang begitu indahnya. Tidak ada seorang atau mahluk apapun yang pernah mendengar suara seindah suara itu, sehingga hal itu menarik perhatian para bidadari yang bermata jeli. Mereka berdiri di tempat tinggi dan berkata, “Apakah ada orang-orang yang melamar kepada Allah, kemudian Allah akan mengawinkannya dengan kami??”


Tidak ada jawaban dan penjelasan apapun, maka para bidadari itu bertanya kepada malaikat penjaga surga, “Wahai Malaikat Ridwan, malam apakah ini?”

Malaikat Ridwan berkata, “Wahai para bidadari yang cantik jelita, malam ini adalah malam pertama Bulan Ramadhan!!”

Para bidadari itu berdoa, “Ya Allah, berikanlah kepada kami suami-suami dari hamba-Mu pada bulan ini!!”

Maka tidak ada seorangpun yang berpuasa di Bulan Ramadhan (dan diterima puasanya) kecuali Allah akan mengawinkannya dengan para bidadari itu, kelak di dalam kemah-kemah di surga.

Kemudian terdengar seruan Firman Allah, “Wahai Ridwan, bukalah pintu-pintu surga untuk umat Muhammad yang berpuasa pada bulan ini. Wahai Malik (Malaikat penjaga neraka), tutuplah pintu-pintu neraka untuk mereka yang berpuasa bulan ini. Wahai Jibril, turunlah ke bumi, kemudian ikatlah setan-setan yang jahat dengan rantai-rantai dan singkirkan mereka ke dasar lautan yang dalam, sehingga mereka tidak bisa merusak (mengganggu) puasa dari umat kekasih-Ku, Muhammad!!”

Para malaikat itu dengan segera melaksanakan perintah Allah tersebut. Itulah sebabnya di dalam Bulan Ramadhan itu kebanyakan umat Islam sangat mudah untuk berbuat amal kebaikan. Suatu hal yang sangat sulit untuk diamalkan pada bulan-bulan lainnya. Gangguan setan (dari kalangan jin) dan hawa panas neraka untuk sementara ditiadakan, hawa sejuk surga yang penuh rahmat dan kasih sayang Allah melimpah ruah membangkitkan semangat untuk terus beribadah kepada-Nya. Musuh yang harus dihadapi tinggal gangguan setan dalam bentuk manusia dan hawa nafsu, yang mereka itu juga telah dilemahkan dengan adanya kewajiban puasa.

Pada riwayat lain disebutkan, pada malam pertama Bulan Ramadhan itu Allah berfirman, “Barang siapa yang mencintai-Ku maka Aku akan mencintainya, barang siapa yang mencari-Ku maka Aku akan mencarinya, dan barang siapa yang memohon ampunan kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya berkat kehormatan Bulan Ramadhan ini (dan puasa yang dijalankannya) !!”

Kemudian Allah memerintahkan malaikat Kiramal Katibin (malaikat-malaikat pencatat amalan manusia) untuk mencatat amal kebaikan dari tiga kelompok orang-orang tersebut dan menggandakannya, serta memerintahkan untuk membiarkan (tidak mencatat) amal keburukannya, bahkan Allah juga menghapus dosa-dosa mereka yang terdahulu.

Pada setiap malam dari Bulan Ramadhan itu, Allah akan berseru tiga kali, “Barang siapa yang memohon, maka Aku akan memenuhi permohonannya. Barang siapa yang kembali kepada-Ku (Taa-ibin, taubat) maka Aku akan menerimanya kembali (menerima taubatnya). Barang siapa yang memohon ampunan (maghfirah) atas dosa-dosanya, maka Aku akan mengampuninya…!!”

Pada malam yang ditetapkan Allah sebagai Lailatul Qadr, Allah memerintahkan Jibril dan rombongan besar malaikat untuk turun ke bumi. Jibril turun dengan membawa panji hijau yang kemudian diletakkan di punggung Ka’bah. Ia mempunyai 600 sayap, dua di antaranya tidak pernah dipergunakan kecuali pada Lailatul Qadr, yang bentangan dua sayapnya itu meliputi timur dan barat. Kemudian Jibril memerintahkan para malaikat yang mengikutinya untuk mendatangi umat Nabi Muhammad SAW. Mereka mengucapkan salam pada setiap orang yang sedang beribadah dengan duduk, berdiri dan berbaring, yang sedang shalat dan berdzikir, dan berbagai macam ibadah lainnya pada malam itu. Mereka menjabat tangan dan mengaminkan doa umat Nabi Muhammad SAW hingga terbit fajar.

Ketika fajar telah muncul di ufuk timur, Jibril berkata, “Wahai para malaikat, kembali, kembali!!”

Para malaikat itu tampaknya enggan untuk beranjak dari kaum muslimin yang sedang beribadah kepada Allah. Ada kekaguman dan keasyikan berada di tengah-tengah umat Nabi Muhammad SAW, yang di antara berbagai kelemahan dan keterbatasannya, berbagai dosa dan kelalaiannya, mereka tetap beribadah mendekatkan diri kepada Allah, tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Mendengar seruan Jibril untuk kembali, mereka berkata, “Wahai Jibril, apa yang diperbuat Allah untuk memenuhi permintaan (kebutuhan) orang-orang yang mukmin dari umat Nabi Muhammad ini?’

Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah melihat kepada mereka dengan pandangan penuh kasih sayang, memaafkan dan mengampuni mereka, kecuali empat macam manusia…!”

Mereka berkata, “Siapakah empat macam orang itu?”

Jibril berkata, “Orang-orang yang suka minum minuman keras (khamr, alkohol, narkoba dan sejenisnya), orang-orang yang durhaka kepada orang tuanya, orang-orang yang suka memutuskan hubungan silaturahmi, dan kaum musyahin!!”

Para malaikat itu cukup puas dengan penjelasan Jibril dan mereka kembali naik ke langit, ke tempat dan cara ibadahnya masing-masing seperti semula.

Ketika Nabi SAW menceritakan hal ini kepada para sahabat, salah seorang dari mereka berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah kaum musyahin itu?”

Nabi SAW bersabda, “Orang yang suka memutuskan persaudaraan, yaitu orang yang tidak mau berbicara (karena perasaan marah, dendam dan sejenisnya) kepada saudaranya lebih dari tiga hari!!”

Malam berakhirnya bulan Ramadhan, yakni saat buka puasa terakhir dan memasuki malam Idul Fitri, Allah menamakannya dengan Malam Hadiah (Lailatul Jaa-izah). Ketika fajar menyingsing, Allah memerintahkan para malaikat untuk turun dan menyebar ke seluruh penjuru negeri-negeri yang di dalamnya ada orang-orang yang berpuasa. Mereka berdiri di jalan-jalan dan berseru, dengan seruan yang didengar oleh seluruh mahluk kecuali jin dan manusia, “Wahai umat Muhammad, keluarlah kamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, yang memberikan rahmat begitu banyak dan mengampuni dosa yang besar!!”

Ketika kaum muslimin keluar menuju tempat-tempat shalat Idul Fitri dilaksanakan, Allah berfirman kepada para malaikat, “Wahai para malaikat-Ku, apakah balasan bagi pekerja jika ia telah menyelesaikan pekerjaannya??”

Mereka berkata, “Ya Allah, balasannya adalah dibayarkan upah-upahnya!!”

Allah berfirman, Wahai para malaikat, Aku persaksikan kepada kalian semua, bahwa balasan bagi mereka yang berpuasa di Bulan Ramadhan, dan shalat-shalat malam mereka adalah keridhaan dan ampunan-Ku!!”

Selasa, 05 Maret 2024

CARA PASANG KANCING JEPRET / SNAP BUTTON


Dalam berkreasi saya membuat sarung bantal kursi tetapi paling males kalo mau pasang resleting. Dan akhirnya saya menggunakan kancing snap (snap button) atau kancing jepret yang biasanya dipakai untuk jas hujan, map plastik, jaket, cloth diapers dan lain-lain. 

Snap button atau kancing jepret ini memiliki dua fungsi, pertama selain sebagai penutup juga berfungsi sebagai hiasan karena bisa terlihat. Kancing jepret ini terbuat dari bahan metal dan plastik, yang terbuat dari bahan plastik bermacam-macam warna. 

Untuk memasang kancing jepret (snap button) ini sebenarnya diperlukan alat khusus yang biasa disebut Snap Plier. Dalam paket Snap Plier terdapat alat pendukung, 1 alat pelubang, 1 obeng pipih, 3 macam matras untuk 3 ukuran kancing (10 mm, 12,5 mm, 15 mm). Snap Plier mudah dan ringan digunakan karena berbentuk seperti tang.

Cara pasang kancing jepret / snap button

  • Gunakan alat pelubang untuk melubangi salah satu sisi kain
  • Ambil salah satu bagian kancing jepret yang berujung runcing lalu masukkan ujungnya ke dalam lubang kain. Pastikan Anda selalu memasang bagian dari bagian baik kain (depan / luar)
  • Jika sudah ambil salah satu bagian kancing jepret yang diperuntukkan sebagai pengunci dua sisi kancing lalu letakkan diatas bagian runcing kancing jepret
  • Ambil snap plier kemudian posisikan bagian matrasnya hingga menutupi kancing. Usahakan agar posisi snap plier tegak lurus supaya kancing yang terpasang hasilnya bagus.
  • Tekan gagang snap plier sampai kedua sisi kancing jepret menyatu. setelah dipress maka bagian ujung yang runcing tadi akan menjadi datar dan kancing terkunci sempurna.
  • Setelah berhasil memasang salah satu sisi kancing jepret, tinggal pasang sisi yang lain sekali lagi. 

Alatnya bisa dibeli disini mudah digunakan dan bermanfaat.

Hasil karya saya dengan kancing jepret :


ANTARA UJIAN DAN AZAB

Perbedaan antara ujian dan azab dalam Islam bisa dilihat dari beberapa aspek berikut: 1. Tujuan Ujian diberikan oleh Allah untuk m...